Minggu, 05 September 2010

Menjual Motor Antik Lebih Mudah Dibanding Mendapatkannya


Usia BMW seri R26 ini boleh saja menua, namun motor kuno warna hitam solid tersebut belum layak pensiun sebagai tunggangan kesayangan. Motor bikinan Jerman produksi 1955 tampil masih gagah. Koleksi Yahya Noor, pengusaha asal Klaten, Jateng ini masih dalam kondisi prima. Cat orisinil 90 persen, dan kondisi mesin mantap. Kendaraan dengan sistem penggerak gardan ini masih nyaman, terasa mendud-mendud dikendarai.

BMW R26 tersebut merupakan salah satu dari enam motor jadul (zaman dulu) milik kolektor motor ini. Lainnya BMB seri R27 produk tahun 1961. BSA seri B13 (1953), Harley Davidson (1948), Tarono bikinan Hongaria (1962), dan Yamaha 400 CC (1978). "Saya menyukai motor jadul, karena unsur klasik, antik, dan kuno. Coba bayangkan, motor yang dibuat lebih dari setengah abad lalu itu, masih layak dikendarai sampai ratusan kilometer. Nyaman, dan tidak mogok," paparnya.
Dalang kondang Ki Manteb Soedarsono, juga merupakan pecandu motor antik. Di rumahnya, di Colomadu, Karanganyar, berderet motor antik, seperti jenis MZ Veb Motorra Warkzschpau. Motor bikinan Jerman 1969 bernomor AD 3000 YE ini masih memilik STNK dan BPKB. Motor antik lainnyaadalah BSA, BMW, dan Honda Phantom Custum.

Menurut Yahya Noor, ia masih terus akan memburu motor-motor antik. "Menjual lebih gampang katimbang mencari," paparnya. Disebutkan, motor antik, kalau sudah di tangan kolektor, akan susah dilepas apalagi pemiliknya orang berduit. "Bila perlu kita mau memburu barang rongsokan, lalu diperbaiki."

Mengenai perawatannya, ia mengatakan, tidak begitu sulit. Motor kuno semua menggunakan sistem manual, bukan elektrik yang lebih njlimet. Apalagi sekarang banyak mekanik bengkel yang memahami betul mengenai mesin motor antik. "Jadi tidak begitu sulit."

Namun, lanjutnya, mengendarai motor kuno tidak seperti kita memacu motor baru buatan Jepang. Penungggangnya harus sabar. Untuk menghidupkan dan memanaskan mesinnya saja "butuh waktu lama, seperti pada motor Hullsman, BMW, Ariel, dan Norton (Jerman). Motor kuno jenis BSA Seklep, British Bike Matchess (Inggris), Tanomo (Hongaria) MZ, dan NZO (Rusia), juga memerlukan waktu sekitar 15 menit untuk memanaskan mesinnya sebelum dikendarai.

Informasi mengenai pasar motor kuno, kata dia, biasanya berkembang dari komunitas pencinta kendaraan roda dua, seperti asosiasi klub, Gerombolan Motor Kuno (Germo), dan Old Motorcycle Asociation (OMA). OMA merupakan tempat berkumpulnya para penggemar motor tua, khususnya motor di bawah tahun 70-an. "Mereka saling berkomunikasi lewat website," ujar Yahya.

Yahya mengaku bangga sebagai penggemar motor tua karena lewat kegiatan ini, ia dan rekan-rekannya bisa melestarikan barang-barang langka bernilai tinggi. "Ini sekaligus sebagai museum berjalan. Bisa dibayangkan, kalau mereka melakukan kegiatan touring, sama artinya pameran motor bekas perang bikinan Jerman (BMW), Prancis (Barnet), dan Inggris (BSA)," paparnya.

Koleksi 300 motor tua

David Sunar Handoko, juga penggila motor tua. Pengusaha diler motor Honda di Yogyakarta ini mengoleksi sekitar 300 motor tua dari berbagai merek, dan 90 motor Harley Davidson (HD). Dari sekian banyak koleksi itu, Sunar mengaku paling menyukai HD tipe Knucklehead 1936-1948, berkapasitas 1.200 CC dan 1.000 CC yang diperolehnya langsung dari Amerika Serikat dan Jerman.

Ia mengaku sangat selektif dalam mengoleksi motor kuno. Namun, meski telah mempunyai banyak, pria ini masih tetap saja memburu motor-motor antik, apalagi jenis dan merek yang belum ia miliki. Sebaliknya, David masih enggan melepasmotornya meskipun sudah banyak yang mengincarnya.

Menurutnya, motor-motor koleksinya bisa saja dinikmati oleh masyarakat, kalau memang diperlukan. Ia juga berharap Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta mau mempromosikan tempat penyimpanan motor tuanya sebagai lokasi wisata alternatif.

Disebutkan, mengoleksi motor kuno, seperti memiliki ikatan bathin. Karena itu tidak heran jika para penggemar enggan melepas tunggangan meski ditawar dengan harga tinggi. Pemilik dengan sepenuh hati merawatnya, kendati harus merogoh kantong lebih dalam. "Ini kepuasan yang tak ternilai harganya," kata David. ed khoirul a
* Otomotif
* Republika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar